Jumat, 16 September 2011


Sutan Syahrir
 


Masa jabatan
14 November 19453 Juli 1947
Presiden Soekarno
Pendahulu Tidak ada, jabatan baru
Pengganti Amir Sjarifoeddin

Masa jabatan
14 November 194512 Maret 1946
Presiden Soekarno
Pendahulu R.A.A. Wiranatakusumah
Pengganti Sudarsono

Masa jabatan
14 November 19453 Juli 1947
Presiden Soekarno
Pendahulu Achmad Soebardjo
Pengganti Agus Salim

Lahir 5 Maret 1909
Bendera Belanda Padang Panjang, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal 9 April 1966 (umur 57)
Bendera Swiss Zurich, Swiss
Kebangsaan  Indonesia
Partai politik PSI
Suami/Istri Maria Duchateau
Siti Wahyunah
Profesi Politikus
Agama Islam
Sutan Syahrir (ejaan lama:Soetan Sjahrir) (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909 – meninggal di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Riwayat

Syahrir lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari |Koto Gadang, Agam.  Ayahnya menjabat sebagai penasehat sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan. Syahrir bersaudara seayah dengan Rohana Kudus, aktivis serta wartawan wanita yang terkemuka.
Sekolah MULO di Medan (sekitar tahun 1925)
Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel De Boer (kini Hotel Natour Dharma Deli), hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.
Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada tanggal 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.
Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.
Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).
Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif – saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.
Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.
"Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan," katanya.
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven-Digoel. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Bandaneira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.

Masa pendudukan Jepang

Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, oleh karena itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis:
"Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan."
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri. Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.
Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah bikinan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.

Masa Revolusi Nasional Indonesia

Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.
Di masa genting itu, Bung Syahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjungan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
Tulisan-tulisan Syahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."
Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan."
Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

Penculikan

Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka dari Partai Komunis Indonesia. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
Presiden Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.
Tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (koppig).
Kelak Let. Kol. Soeharto menjadi Presiden RI Soeharto dan menerbitkan catatan tentang peristiwa pemberontakan ini dalam buku otobiografinya Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.

Diplomasi Syahrir

Perangko Sutan Syahrir 15 Rupiah
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.
Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.
Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan Biju Patnaik, Syahrir bersama Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.
Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Eelco van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.
Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.
Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat.
Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.[2]

Partai Sosialis Indonesia

Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Pada tahun 1948 Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari gerakan komunis internasional. Meskipun PSI berhaluan kiri dan mendasarkan pada ajaran Marx-Engels, namun ia menentang sistem kenegaraan Uni Soviet. Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.

Hobi dirgantara dan musik

Meskipun perawakannya kecil, yang oleh teman-temannya sering dijuluki Si Kancil, Sutan Syahrir adalah salah satu penggemar olah raga dirgantara, pernah menerbangkan pesawat kecil dari Jakarta ke Yogyakarta pada kesempatan kunjungan ke Yogyakarta. Di samping itu juga senang sekali dengan musik klasik, di mana beliau juga bisa memainkan biola.

Akhir hidup

Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI tahun 1958, hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962 hingga 1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swis, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Djojopuspito menghantarkan beliau di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo degan air mata, dan akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.

Karya

  1. Pikiran dan Perjuangan, tahun 1950 (kumpulan karangan dari Majalah ”Daulat Rakyat” dan majalah-majalah lain, tahun 1931 – 1940)
  2. Pergerakan Sekerja, tahun 1933
  3. Perjuangan Kita, tahun 1945
  4. Indonesische Overpeinzingen, tahun 1946 (kumpulan surat-surat dan karangan-karangan dari penjara Cipinang dan tempat pembuangan di Digul dan Banda-Neira, dari tahun 1934 sampau 1938).
  5. Renungan Indonesia, tahun 1951 (diterjemahkan dari Bahasa Belanda: Indonesische Overpeinzingen oleh HB Yassin)
  6. Out of Exile, tahun 1949 (terjemahan dari ”Indonesische Overpeinzingen” oleh Charles Wolf Jr. dengan dibubuhi bagian ke-2 karangan Sutan Sjahrir)
  7. Renungan dan Perjuangan, tahun 1990 (terjemahan HB Yassin dari Indonesische Overpeinzingen dan Bagian II Out of Exile)
  8. Sosialisme dan Marxisme, tahun 1967 (kumpulan karangan dari majalah “Suara Sosialis” tahun 1952 – 1953)
  9. Nasionalisme dan Internasionalisme, tahun 1953 (pidato yang diucapkan pada Asian Socialist Conference di Rangoon, tahun 1953)
  10. Karangan–karangan dalam "Sikap", "Suara Sosialis" dan majalah–majalah lain
  11. Sosialisme Indonesia Pembangunan, tahun 1983 (kumpulan tulisan Sutan Sjahrir diterbitkan oleh Leppenas)

Jumat, 05 Agustus 2011

Tips Menghadapi Semut

Saya suka memperhatikan aktivitas semut, mereka mengambil peranan penting dalam lingkungan hidup, seperti membersihkan serangga dan hewan yang mati, serta menyuburkan tanah.
Namun, mereka tak lagi menyenangkan di kala mereka mulai memenuhi rumah kita. Biasanya kita akan segera mengambil insektisida ketika semut menjadi masalah, tetapi ada cara lain yang lebih ramah lingkungan untuk menghalangi semut berdatangan.

Mencegah Semut
Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda coba sebelum anda memilih untuk menggunakan insektisida:

1. Tuangkan air jeruk limau di sekitar area yang kerap dilewati semut.

2. Taburkan kayu manis atau letakkan sebuah kantong dari katun tipis yang telah diisi kayu manis di tempat yang kerap dilewati semut. Kayu manis adalah pilihan yang sangat populer dengan banyaknya pengalaman dari pembaca yang menyatakannya sangat efektif.

3. Baking soda dapat mencegah semut. Taburkan membentuk sebuah garis penuh di tempat yang menjadi aktivitas para semut, mereka tidak akan melintasi garis tersebut.

4. Bubuk kopi yang ditaburkan melingkar pada tanaman dapat mencegah datangnya semut.

5. Oleskan campuran kulit jeruk dan air pada suatu tempat untuk membuat semut tidak berani melewati tempat tersebut.

6. Semut membenci cuka, jadi semprotkan cuka di sekitar pintu atau daerah lainnya untuk mengusir mereka. Menempatkan sebuah kontainer kecil berisi campuran cuka dan madu di tempat yang kerap menjadi aktivitas para semut juga memiliki efek yang sama.

7. Seorang pembaca melaporkan bahwa bedak bayi dapat menghentikan semut hingga mati di tempatnya.

8. Tuangkan air mendidih di atas jalur yang dilewati semut. Hal ini akan menghancurkan aroma jejaknya.

9. Taburkan bubuk cengkeh di sekitar wadah tempat makan hewan peliharaan.

10. Singkirkan batu dan kayu di sekeliling kebun.
11. Tanam mint di sekitar tumbuhan sayur-sayuran, taman bunga, dan di sekitar rumah.
12. Cukup banyak pembaca menemukan penaburan kayu manis di sepanjang jejak semut sangat efektif.
13. Minyak pohon jeruk adalah cairan pencegah yang baik. Rendam seutas tali / benang dan letakkan tali / benang tersebut di sekeliling jejak para semut.
14. Gunakan sebatang kapur untuk menggambar garis di atas jejak semut, semut tidak akan berani melintasinya. Kelebihan dari penggunaan kapur adalah bahwa hal ini juga bisa diterapkan dalam permukaan vertikal.
Salah seorang pembaca memutuskan untuk bekerja sama dengan semut daripada melawan mereka. Dia membuat jejak gula jauh dari rumahnya ke tumpukan kompos dengan maksud agar mereka menemukan sebuah pesta besar di sana... dan hal ini berhasil.
Semut melakukan invasi karena suatu alasan, biasanya adalah untuk makanan atau air, jadi pastikan Anda menyimpan makanan di tempat yang aman, dan jangan lupa bersihkan sisa-sisa makanan setelah Anda mempersiapkan makanan. Juga periksa kebocoran pipa, khususnya di bawah bak cuci piring. Serangga yang meninggal dapat menarik sejumlah besar semut, jadi periksalah jendela dan daerah lain tempat mereka berkumpul.

Memberantas Semut

Sayangnya, kadang-kadang Anda perlu untuk membasmi semut daripada mencegah mereka. Berikut adalah beberapa cara yang lebih ramah lingkungan untuk melakukannya:
Campuran 1/8 sendok teh bubuk boraks dan gula / madu akan menarik dan membunuh semut. Ini adalah campuran yang sering digunakan dalam produk komersil pembasmi semut. Semut pekerja akan membawa campuran ini kembali ke sarang mereka dan menyebarkannya ke semut lain, sehingga dengan sendirinya akan membunuh sebuah koloni besar.
Boraks dalam jumlah kecil tidak akan berbahaya bagi hewan yang lebih besar, namun bila dosisnya cukup tinggi dapat menyebabkan kematian, jadi pastikan Anda berhati-hati  menempatkan dan menjaganya dari jangkauan binatang peliharaan dan anak-anak.
Seorang pembaca juga melaporkan penggunaan pasir kering untuk membunuh semut, sebuah strategi bebas racun yang selalu berhasil ia gunakan selama 20 tahun. Teori di balik strategi ini adalah bahwa semut juga memakan pasir, dan ketika mereka meminum air, pasir tersebut akan mengembang di dalam perut mereka, yang artinya dapat membunuh mereka.
Semoga salah satu tips di atas dapat membantu Anda dalam mengendalikan semut secara ramah lingkungan!

Minggu, 10 Juli 2011

Ngomong di Depan Umum? Pasti Bisa!

Ngomong di Depan Umum?
 Pasti Bisa!
Grogi, gelisah, deg-degan, bibir beku, lidah kelu, jadi malu..Oh my god, please donk ahh ..rasanya klo hruz bicara di depan umum. Owwh mending lewat telepon aja deh! (hla??) . Woi, jangan kabur, guys! Mending baca dulu kiat-kiat bicara di depan umum ni…

G-R-O-G-I  N-I-H..
Emang deh, urusan tampil di depan umum untuk bicara sering bikin kita nervous. Bukan cuma keringetan ato’ ngomong jadi enggak lancar, tapi bikin stress tersendiri.
Banyak dari kita yang lancar berbicara dan berdebat sama temen, sama orang lain, tapi urusan bicara yang kudu naik podium, orasi di hadapan orang banyak, dengan puluhan pasang mata memandang, wuiiih gilee.., tobat dech! Mending omong sama cermin aja ea.. agagagagg !! Enggak usah pidato di hadapan orang banyak, bicara di depan kelas aja banyak dah dari kita yang groginya nggak ketulungan.
Padahal kemampuan berbicara di muka umum sangat penting hloo, apalagi buat kita yang ngakunya muslim. Yuph tentu aja itu berkaitan sama adanya keistimewaan bagi umat Islam untuk menyuruh hal yang makruf dan melarang yang munkar bagi setiap muslim. Baik yang bentuknya ceramah, orasi, de el el…

BUKAN CUMA KAMU, KOK!
Yang pertama kudu di inget, hampir semua orang mengalami ini, grogi ketika harus berbicara di depan orang banyak. Tak peduli ia udah sering berbicara, pasti selalu ada rasa grogi saat harus kembali berbicara di muka umum. Tanya dah temen-temen yang terbiasa  berbicara di muka umum, anak OSIS misalnya. Christine Stuard dalam bukunya Effective Speaking memaparkan survey yang di lakukan pada 3000 orang di USA yang disuruh menulis 10 rasa takut yang paling sering di alami. Ternyata oh ternyata, number one dari daftar rasa takut itu adalah berbicara di muka umum! Woow,bahkan melebihi rasa takut pada kekurangan uang dan kematian! Ko’ bisa ea??
Nah, ada beberapa alas an kenapa banyak yang merasa takut berbicara di depan umum, diantaranya :
  •  Enggak familiar sama situasi yang dihadapi. Duh, orang-orangnya kayak gimana seeh? Tempatnya? Dsb..
  •     Kurang percaya diri
  •    Takut terlihat bodoh atau konyol. Nanti kalo lupa apa yang mo di omongin gimana? Kalo mereka ngeliatin baju saya aja aja gimana?
  •    Takut konsekuansi tampil di depan umum, misalnya : “wah, kok tampang mereka pada cuek sih? Lho  kok ada yang keluar sih, kan gue belum selesai ngomong?! Hah, kok tidur sih, kan gue lagi ngomong!”
Hal-hal di atas lah yang sering kali bikin jantung kita berdetak dua kali lebih cepat, adrenalin meningkat, napas kurang teratur dan tensi suara kurang jelas, yang istilahnya jadi grogi, gugup, atau nervous. Dan….. semua orang pernah mengalami ini. So, it doesn’t have to be stressfull!!

So, what??
Nggak ada kata yang paling pas buat bisa berbicara di depan umum selain ‘kepercayaan diri’. Yups, pede aja kali..
Percaya deh kita harus dijorokkin buat melakukan sesuatu yang baru, baru deh tahu kalo kita bisa melakukannya. Practice make perfect, hapal beud kan sama kalimat ini? So, pede aja kale…
Enggak usah takut ketika guru meminta salah satu murid berbicara di depan kelas. Tunjuk tangan! Enggak usah takut di suruh jadi korlap demo. Jangan ragu diminta mengisi kajian rohis, keputrian, pengajian ato’ seminar. Terjun aja dulu, baru rasain gimana serunya. Pokoknya grogi itu milik semua, dari presiden sampe petani..
Tapi… tentu saja terjunnya bukan terjun bebas tanpa parasut. Itu mah bonek! Tetep aja kamu harus memiliki persiapan saat mau berbicara di depan umum. Pha aja sih yang perlu di siapkan??
  • Kuasai apa yang akan kita bicarakan
Sebelumnya cari info sebanyak-banyaknya dari buku, internet, dsb. Tapi ..enggak perlu diambil semua. Selain waktunya terbatas, banyak studi yang memperlihatkan bahwa orang hanya mengingat sedikit yang disampaikan oleh pembicara. So, kita kudu memilah n’ memilih apa yang mo kita sampaikan. Cukup dua atau tiga poin aja. Menjejali pendengar dengan banyak informasi sama aja nggak memberikan informasi apapun
  • Jangan pernah berpikir kita harus sempurna dan brilian untuk sukses berbicara di muka umum
Kebanyan kita ketika melihat seseorang berbicara berbicara di muka umum dan sangat menarik, langsung berkomentar :wow, gue enggak bakal bisa pandai tenang dan menghibur kayak gitu! Hilangkan perasaan ini. Yang penting adalah : member sesuatu yang bernilai kepada yang mendengarkan kita. Dan harus kita yakini bahwa apa yang kita sampaikan bermanfaat untuk pendengar.
  •  Kenali pendengar kita
Maksudnyaa, pada siapakah kita akan bicara( audience)? Temen-temen sekelas? Temen-temen satu sekolah? Lebih muda, lebih tua? Enggak perlu tahu detil, sekedarnya saja, untuk mengira-ngira apa yang sebaiknya kita bicarakan dan apa yang sebaiknya di hindari.
  • Suara
Perhatikan ucapan yang keluar dari mulut kita. Bersuaralah yang keras dan lantang, tapi jangan teriak-teriak ( pusing lagi yang denger :D). Atur jeda, irama dan tempo suara dengan baik (bisa dilatih kok). Sering kali karena ingin cepet selesai kita bicara cepat dan artikulasi kurang jelas. Rugi kan, udah bicara capek-capek tapi enggak tertangkap maksudnya??
  • Bersikap tenang
Take deep breath dan keluarkan perlahan. Tenangkan pikiran dan emosi sebelum kira bicara. Jangan panik, ini malah bikin apa yang akan kita bicakaran jadi buyar!
  •  Hindari perilaku yang teatrikal
Karena gugup kita sering melakukan sesuatu yang enggak perlu, seperti memainkan pulpen atau pensil, kancing baju, berkali-kali benerin jilbab atau kacamata. Selain mengganggu konsentrasi pendengar, hal itu juga mengurangi perhatian pada apa yang sedang kita bicarakan.
  • Kalau perlu kita latihan dulu, dengan disaksikan teman atau saudara
Bukan hanya agar dapat menguasai hal yang akan kita bicarakan, tapi juga untuk mengatur waktu dan penguasaan diri.
  • Jangan takut kita akan mengecewakan pendengar
Sering kita berpikir bahwa pendengar harus menyetujui apa yang kita katakan.  Namanya juga dunia. Setiap orang punya pemikiran dari sudut pandang berbeda. Ada yang positif ada yang negatif. That’s human nature! So, enggak usah lansung mengkeret ketika ada yang enggak setuju sama apa yang kita katakana. Take it easy Baby!!

Jadi, begitulah. Yang juga mesti di inget, sebuah ceramah yang baik, bisa enggak baik karena penyampaiannya kurang baik.


Sabtu, 18 Juni 2011

Mau Bicara?? Isi Dulu Kepala

Mau Bicara?? Isi Dulu Kepala

Sastrawan Taufiq Ismail bilang bangsa kita adalah bangsa yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Lantas, apakah dengan demikian bangsa kita adalah bangsa yang telah terampil berbicara?
Kalau bikin forum bergunjing di sekitar gerobak tukang sayur sih kita memang juaranya, tapi apa kita jago juga bicara di depan umum? Beb, beb, belepotan kan?
Takut Mati?
Tidak. Saya lebih takut bicara!
Untuk mencari pembuktian yang gampang, coba nyalakan televisi atau radio, lalu simak baik-baik bagaimana bangsa kita bersuara. Maka kita aka menemukan hampir semua golongan masyarakat punya stok lebih untuk dijadikan kandidat pembicara terburuk. Tak peduli siapa mereka, dari penjahat sampai pejabat dari  yang mendekam di gedung mewah hingga yang kleleran di kolong jembatan , semua unjuk kekacauan berbicara, baik logika maupun gramatikanya.
Ternyata, meski bangsa kita terkenal ramah dan banyak mulut, urusan berbicara di depan umum adalah persoalan yang lain lagi. Seseorang yang kita kenal selalu lancar ketika berbicara atau berdebat di warung kopi, tiba-tiba menjadi seperti orang linglung ketika disuruh  maju ke mimbar atau podium. Sudah lima menit ia berdiri di sana dan memegang mic, tapi dari bibirnya hanya keluar kata ‘amma ba’du dan ‘amma ba’du lagi. Lalu berkeringatlah tangan teman kita itu. Beberapa paragraph yang sebelumnya telah dihapalnya  kabur dari kepala, bahkan kini ia jadi sesak napas. Sebentar lagi mungkin ia pingsan karena ternyata ia ug abelum sarapan.
Pasti di antara sobat semua ada yang pernah mengalami hal seperti itu. Gugup , grogi, nervous, demam panggung atau apapun namanya. Tapi, jangan kecil hati dulu, banyak kok yang mengalami hal seperti itu. Kata Mark Twain, semua orang pada dasarnya gugup ketika berbicara di depan umum. “Ada dua jenis pembicara, yang gugup dan pura-pura tidak gugup,”kata pencipta tokoh Tom Sawyer dan Huckleberry Finn ini.
Bahkan, menurut Lenny Laskowski, ketakutan berbicara di depan umum menduduki peringkat  pertama dalam daftar jenis ketakutan ( kita tahu ada orang yang takut ketinggian, takut terbang, takut serangga, takut tetangga ?? :D). Dan takut mati di daftar itu Cuma menduduki peringkat ke-7!
Salahnya Kultur Pendidikan Kita?
Jika sobat semua menengok ke belakang, mungkin kemempuan kita yang redah dalam berbicara di muka umum ini terkait dengan budaya kita sendiri. Budaya yang kita dengan bangga kita sebut ebagai adat ketimuran. Sejak kecil kita dijejali pengertian bahwa membantah pendapat orang tua itu jelek dan harus dihindari. Orang tua kita senang jika kita anteng, duduk tenang mendengarkan uraian guru kita di kelas. Jika kita menyanggah guru, orang tua atau orang yang dituakan dengan mengaukan pandangan yang berbeda, walapun benar kita akan dianggap tidak  sopan, suka melawan, dan sok pintar. Lantas, jika berbicara di depan umum, kita dicap ingin menonjolkan diri. Sialnya, pemerintah juga ikut-ikutan. Berani mengkritik kebijakan pemerintah kita akan dituduh subversiv, anti-Pancasila lalu kita dicekal atau dibungkam dengan berbagai cara.
Begitu seterusnya. Lama-lama kita hanyut dan menyimpulkan bahwa kemahiran berbicara adalah murni bakat pemberian Tuhan. Ia tidak bisa dibentuk melalui latihan atau pelajaran di sekolah. Ia hanya perlu dikuasai oleh orang tertentu aja. Tapi,itu semua kondisi puluhan tahun silam. Sekarang? Mungkin nggak jauh beda. Hehehe
Dan dalam soal mengajarkan public speaking ini, sekolah umum agaknya tertinggal oleh pesantren. Dan sekolah-sekolah umum kita pelit sekali member tips dan jurus  berbicara di depan umum. Sementara,di lembaga pendidikan yang sering kita anggap tradisional malah getol mendidik para santrinya untuk mengasah kmampuan berpidato. Dan pidatonya itu tak hanya dalam bahasa Indonesia saja, melainkan bahasa Inggris  dan Arab. Bikin ngiri kan?
Menurut Dr.Jalaluddin Rakhmat, pakar Ilmu Komunikasi), di Amerika Serikat mata kuliah retorika , disana disebut  speech communication, oral communication ataupu public speaking , menjadi mata kuliah wajib bagi semua tingkat undergrad (mebelum sarjana). Soalnya, pada tingkat pancasarjana mereka harus banyak melakukan presentasi, dan presentasi tentu saja memerlukan kemampuan retorika. Sedangkan di Indonesia, mata kuliah retorika terkucil di pojok kecil Fakultas Sastra dan di sudut lebih kecil lagi si Fakultas Ilmu Komunikasi. Bisa dibayangkan kan perbedaan dan dampaknya?
Oh ea sobat semua di atas telah disinggung bagaimana bangsa kita yang suka bicara ini tiba-tiba gagap begitu diminta mengajukan pendapat di muka public. Saya menduga, hal ini karena keterampilan berpendapat lebih terkait dengan budaya baca ketimbang budaya ngerumpi. Coba, kalimat apa yang bisa kita keluarkan dari mulut kalau kepala kita kopong dan lipa diisi?
Mengapa Public Speaking?
Menurut penelitian, kita menggunakan 75% waktu kita (diluar waktu tidur) untuk berkomunikasi. Dan hampir bisa dipastikan, sebagian besar dari waktu berkomunikasi itu kita lakukan secara lisan. Dan apa tujuan komunikasi lisan? Apa tujuan pidato, misalnya? Yui, di SMP kita diajarkan bahwa tujuan pidato paling tidak ada tiga, yaitu untuk member tahu (informatif), untuk membujuk (persuasif), dan menghibur (entertain).
Indonesia pernah punya Bung Karno dan Bung Tomo, mereka orator ulung, singa podium. Dengan penguasaan retorika yang prima, mereka telah menyadarkan bangsa kita bahwa kita sedang terjajah, sekaligus meyakinkan bahwa kita bukanlah bangsa tempe yang hanya bisa menunggu saja anugerah kemerdekaan dari sang penjajah. Di era sekarang, kita punya Aa’ Gym,Zanuddin MZ, Emha Ainun Nadjib, Gede Prama dan segudang pembicara lain yang dengan gaya khas masing-masing mampu memukau dan menggerakkan banyak khalayak. Nah, siapa yang tak ingin seperti mereka : mampu mendidik, mengajarka kebaikan, meyakinkan dan menghibur khalayak?
Baiklah, kalau yang saya  ungkapkan diatas itu terlalu muluk, kita  lihat saja lingkup yang lebih kecil. Coba amati, dalam lingkup skala  pun kita hampir tak lepas dari peran kemempuan public speaking. Bukankah  acara yang berkaitan dengan kelahiran, lamaran, pernikahan, kematian, ceramah, diskusi, seminar, debat, pengajian, rapat OSIS, rapat RT, bahkan menjual jamu di pinggir jalan dan seterusnya, memerlukan public speaking?
Masih kurang? Menurut penelitian Dr. Charles Hurst, mahasiswa yang memperoleh pelajaran speech terbukti mendapat skor lebih tinggi dalam tes belajar dan berpikir, dan lebih tinggi nilai akademisnya ketimbang yang tidak memperoleh pelajaran itu.
Berawal Dari Niat Membela Rakyat
Sekitar tahun 456 SM, terjadi revolusi di sebuah koloni di Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu dikuasai tiran. Yang namanya tiran, sudah pasti suka mencaplok tanah rakyat. Nah, setelah tiran dirobohkan dan demokrasi ditegakkan, rakyat yang ingin mengambil tanahnya harus dapat meyakikan juri  di pengadilan bahwa memang dialah pemilik tanah yang sah. Pasti puyengkan mereka? Apalagi saat itu belum ada pengacara atau sertifikat tanah. Untuk membantu rakyat bersilat lidah dan memperoleh haknya di pengadilah itulah, Corax  menulis makalah retorika yang disebut Techne Logon (seni kata-kata).
Mulai tahun itu, retorika berkilau pamornya di Yunani. Kursus retorika yang diajarkan kaum sophis (sebutan untuk guru retorika, pengajar kebijaksanaan) menjadi mahal, hingga Socrates hanya mampu membayar kursus untuk dasar bahasa rendah saja. Filusuf itu kemudian mengkrituk kaun sophis ini sedagai prostitute. Menurutnya, memperoleh uang dengan menjual kebijaksanaan sama halnya seperti pelacur menjual kecantikannya. Kritikan Socrates ini dibenarkan oleh Plato, muridnya.
Nah, dari sejarah singkatnya saja telah jelas bahwa retorika itu perlu dan bisa dipelajari. Ia bukan melulu bakat.

10 Tanda Hidup Kita Tidak Bahagia



1. Jika Anda tidak yakin siapa diri Anda
2. Jika Anda kehilangan arah & bingung menentukan prioritas
3. Jika Anda menjalani hidup hanya untuk menjalankan keinginan orang lain
4. Jika Anda tidak menghargai diri Anda
5. Jika Anda tidak menjadi yang terbaik bagi diri sendiri
6. Jika Anda tak bisa menjawab pertanyaan "untuk apa Anda hidup?" 
7. Jika Anda tak bisa menjawab pertanyaan "mau kemana setelah kehidupan?"
8. Jika Anda hidup hanya memikirkan diri sendiri
9. Jika Anda tak tahu standar baik buruk menurut Sang Pencipta & orang-orang di sekitar Anda
10. Jika Anda hanya mengejar materi tapi melupakan sesuatu yang tak bisa dilihat namun bisa dirasakan 

Kamis, 09 Juni 2011

Belajar Dari Cemoohan Orang

Ea...
Belajarlah dari cemoohan orang-orang di sekitar kita
Belajarlah dari kritikan, cercaan dan tertawaan mereka
Namun semua itu tak berarti ketika menjadi kepedihan semata
Belajarlah untuk bangkit dan terus menghasilkan karya nyata


Salam semangat sobat, berikut saya kutipkan tulisan yang begitu menginspirasi dari seorang Cahyadi Takariawan:

Silakan tidur dan berhenti dari kebaikan, maka para setan akan pesta pora merayakan kemenangan. Silakan menyesal menempuh jalan panjang bernama kebajikan, tempuh jalan lain yang lebih menyenangkan pemberitaan. Hanya itukah tujuan kita ? Mendapat pujian, mendapat pengakuan, mendapat ucapan selamat dan penghargaan atas kesantunan, kesalehan, kebaikan, kejujuran, dan kebersihan  yang ditampilkan ? Tidak siap mendengar kritik tajam, caci maki, cemoohan masyarakat ? Tidak kuat mendengar ledekan, tertawaan, gunjingan, dan kekesalan orang ?

Menyublimkan kepedihan menjadi amal kebaikan berkelanjutan yang kita lakukan dalam setiap tarikan nafas. Jangan menguapkannya, karena jika diuapkan kesedihan hanya akan hilang namun tidak menghasilkan karya. Ya, anda harus menyublimkan kepedihan ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Menjadi sesuatu yang menyemangati diri. Menjadi sesuatu yang menasihati. Menjadi sesuatu yang bernilai abadi. Menjadi sesuatu yang bernama kontribusi.

Setiap cemoohan dan ejekan akan menambah kesedihan di hati para pejuang. Setiap ketidakberhasilan akan menggoreskan kegetiran pada dada setiap pejuang. Kesedihan itu harus disublimasi menjadi karya yang berarti. Setiap hari kita telah terbiasa menumpuk kelelahan, kesedihan, kegetiran, kepedihan, dari yang terkecil hingga yang paling dalam. Menyublimkan kegetiran akan mengubahnya menjadi kerja nyata bagi bangsa dan negara. Apa artinya dipuji-puji jika tidak memiliki kontribusi yang berkelanjutan ? Apa salahnya dicaci maki jika itu memacu kontribusi yang lebih berarti bagi perbaikan ?

Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya. Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri. Keyakinan ini tak bisa ditawar lagi.